PENGERTIAN DAN FUNGSI TEORI
Teori adalah sekumpulan pernyataan terstruktur yang digunakan untuk menjelaskan (atau memprediksi) sekumpulan fakta atau konsep. Ia merupakan sebuah sistem konsep abstrak yang mengindikasikan adanya hubungan di antara konsep-konsep tersebut dalam membantu kita memahami sebuah fenomena.
Teori sebagai sebuah proses pengembangan ide-ide yang menjelaskan bagaimana dan mengapa suatu peristiwa terjadi. Karena itu teori adalah abstraksi dari realitas yang dapat dibuktikan secara empris.
Adapun fungsi teori antara lain untuk
Meringkas pengetahuan;
Memberi fokus perhatian pada variabel penting dan hubungan;
Menjelaskan dan mengklarifikasi apa yang diamati;
Membantu untuk melakukan pengamatan;
Memprediksi;
Menemukan sesuatu (heuristik):
Memberikan kerangka kerja; dan
Mengontrol tau mengendalikan.
Dengan memahami makna dan fungsi teori maka akan membantu seseorang untuk bisa :
Berpikir sistematis, kritis, dan peka terhadap sesuatu fenomena.
Bagaimana menyederhanakan sesuatu yang kompleks dengan cara yang mudah.
Memberikan pemahaman tentang proses terbentuknya suatu teori.
Bagaimana menerapkan teori pada kehidupan sehari-hari.
Bagaimana menempatkan teori dalam proses penelitian.
Mengetahui posisi teori dalam balantara ilmu pengetahuan.
Memperkenalkan tentang prinsip dan ide-ide sentral suatu ilmu pengetahuan.
The study of theory will cause the student to see things never seen before, kata pakar komunikasi Littlejohn (2008).
• Jadi belajar teori adalah sesuatu yang menyenangkan, dan bukan sesuatu yang membuat kita harus larut dengan keruwetan (John R. Baldwin, 2003).
• Dengan belajar teori maka kita bisa memiliki kemampuan untuk mengonstruksi berbagai konsep, pengertian, atau aksioma yang bisa digunakan dalam menyederhanakan atau keluar dari suatu masalah yang rumit.
• Selain dari itu, teori juga dapat digunakan untuk memahami suatu ilmu pengetahuan dengan melihat struktur body of knowledge dari pengetahuan tersebut, termasuk dalam memahami teori etika.
APA YANG DIMAKSUD DENGAN TEORI ETIKA
• Etika biasa disebut filsafat moral, salah satu cabang filsafat yang berbicara tentang tindakan manusia.
• Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak.
• Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma. Karena itu teori etika biasa diartikan teori moral yang memberi penjelasan bagaimana menentukan perilaku yang benar dan yang salah, dengan kata lain mengapa suatu tindakan dikatakan salah, atau mengapa kita harus bertindak tentang apa yang seharusnya kita lakukan secara benar dan baik, termasuk dalam berbicara dan menyampaikan sesuatu kepada orang lain (komunikasi).
Untuk mempelajari etika (moralitas kemanusiaan) perlu dipahami dua prinsip dasar sebagai acuan, bahwa teori etika pada dasarnya memiliki sifat:
Subjektivisme moral. Untuk menentukan suatu tindakan atau perlakukan untuk dikatakan "benar" dan "salah" sangat ditentukan oleh apa yang kita pikirkan (atau 'rasakan’”). Dalam bentuknya yang umum, penentuan benar atau salah (subjektivisme moral) sama dengan penyangkalan prinsip-prinsip moral, bahwa seseorang yang berpikir dan merasa bahwa tindakannya itu sudah "benar', maka tidak ada alasan untuk mengkritiknya. Dengan demikian 'benar' dan 'salah' kehilangan maknanya karena orang bertindak sesuai dengan apa yang mereka pikir atau rasakan sudah benar.
Relativisme budaya. Penilaian untuk menyatakan suatu Tindakan benar atau salah tidak saja apa yang telah dipikirkan dan diyakini seseorang menurut akal sehatnya, tetapi juga ditentukan oleh prinsip atau aturan tertentu yang dianut oleh budaya suatu komunitas atau masyarakat tertentu. Relativisme budaya terkait erat dengan prinsip subjektivisme moral yang menyiratkan bahwa kita tidak boleh mengkritik tindakan orang-orang yang dianut dan diterima dalam budaya tertentu menurut pikiran kita sendiri.
Evans dan Macmillan (2014) membagi tiga kategori dasar yang berkaitan dengan teori etika, yaitu meta-etika, etika normative dan etika terapan
Meta-etika, sebagai teori etika yang berkaitan dengan konsep moral,teori, dan makna bahasa moral. Meta-etika akan berhubungan dengan cara kita memandang dan memahami teori-teori etika, termasuk interpretasi dan evaluasi bahasa yang digunakan.
Teori normatif, sebagai teori etika yang berkaitan dengan norma standar atau kriteria yang mendefinisikan prinsip-prinsip perilaku etis. teori normatif memberitahukan kita tidak hanya apa yang harus kita lakukan, tetapi juga mengapa kita melakukannya.
Etika terapan, sebagai teori etika yang berkaitan dengan penerapan etika normatif pada bidang tertentu. Misalnya mengetahui dan mengamalkan kode etik jurnalistik, kode etik kedokteran, kode etik guru, dan sebagainya.
PENDEKATAN TERHADAP TEORI ETIKA
Di dalam membicarakan tentang teori-teori etika, ada dua pendekatan yang sering digunakan, yakni pendekatan TELEOLOGI dan pendekatan DEONTOLOGI
TELEOLOGI
• Teleologi berasal dari akar kata Yunani telos, yang berarti akhir, tujuan, maksud, dan logos, perkataan. Jadi, teleologi adalah ajaran yang menerangkan bahwa segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu.
• Ada tiga tokoh filsuf Yunani yang sering jadi acuan dalam membicarakan teleologi, yakni Plato, Aristoteles, dan Thomas Aquinas.
• Etika teleologi menegaskan bahwa apa yang membuat suatu inisiatif, perilaku, atau tindakan menjadi benar atau salah, dinilai berdasarkan konsekuensi yang diakibatkan oleh tindakan atau perilaku tersebut. Jika konsekuensi dari tindakan atau inisiatif yang dilakukan seseorang memberikan manfaat, maka tindakan tersebut dapat dikatakan sebagai tindakan yang benar. Sebaliknya jika tidak memberikan manfaat, maka tindakan tersebut dapat dikategorikan sebagai suatu kesalahan.
DEONTOLOGI
• Etika deontologi adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani deon yang berarti kewajiban (duty) dan logos berarti ilmu atau teori. Tokoh teori deontologi adalah Immanuel Kant (1724-1804), karena itu teori ini biasa disebut teori Kantian
• Prinsip dasar teori etika deontologi yakni: (a) upaya suatu Tindakan punya nilai moral, tindakan itu harus dijalankan berdasarkan kewajiban; (b) nilai moral dari tindakan itu tergantung pada kemauan baik yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan itu; dan (c) kewajiban yang dilaksanakan berdasarkan kepatuhan kepada hukum
• Dalam teori etika deontologis yang menjadi dasar baik dan buruknya suatu perilaku atau tindakan adalah kewajiban. Teori ini menyatakan bahwa orang harus mematuhi kewajiban dan tugas mereka dalam pengambilan keputusan ketika etika sedang dimainkan
BEBERAPA TEORI ETIKA
Ada beberapa pendapat mengenai jumlah teori etika. Ada yang menyebut enam teori, ada delapan teori dan 12 teori. Tapi dari berbagai kajian yang telah dilakukan berhasil dikumpulkan dan di klasifikasikan sepuluh teori etika yang akan dibicarakan dalam pembahasan berikut.
1. Teori Egoisme Etis
• Istilah "egoisme" berasal dari istilah Latin ego yang berarti "aku." Di dalam bahasa Inggris disebut egoism yang berarti penilaian yang berlebihan terhadap kepentingan diri sendiri. Ini bertolak belakang dengan istilah altruisme yang artinya pemberian perhatian dan keutamaan terbesar kepada orang lain atau orang banyak daripada kepentingan diri sendiri.
• Teori egoisme dapat diartikan sebagai teori yang menganggap suatu nilai adalah baik jika menguntungkan, sebaliknya bernilai buruk jika merugikan. Teori egoisme menganut ajaran kepentingan diri sebagai sasaran yang paling tinggi dari tindakan moral. Dengan demikian, tiap manusia semestinya menyandang sifat keakuan, yaitu melakukan sesuatu yang memberi manfaat kepada diri.
2. Teori Utilitarian (Utilitarisme)
Teori etika utilitarian dicetuskan oleh Jeremy Bentham yang dianggap sebagai pendiri utilitarianisme dan John Stuart Mill yang memperkenalkan teori ini lewat bukunya On Liberty and Utilitarianism (1993). Teori ini sebagai panduan untuk memprediksi konsekuensi dari suatu tindakan
• Utilitarianisme dapat dibedakan atas dua tipe, yakni Utilitarianisme Aturan dan Utilitarianism Tindakan.
• Utilitarianisme Aturan berusaha memberi keuntungan bagi orang banyak dengan cara yang paling adil sekaligus mencakup kebaikan.
• Utilitarianisme aturan dapat diilustrasikan dengan contoh "jangan membunuh." Dengan aturan yang bermanfaat ini maka masyarakat atau orang banyak akan lebih baik dalam keadaan yang terbaik jika setiap orang mengikuti aturan "jangan membunuh".
3. Teori Kebajikan (Virtue Theory)
• Etika kebajikan berakar dari karya filsuf Yunani kuno Aristoteles. Bagi Aristoteles perhatian utamanya adalah ethica, yakni hal-hal yang berkaitan dengan karakter atau kebajikan moral. Teori kebajikan mengklaim bahwa dalam menjalani kehidupan yang baik (etis) maka manusia semestinya memiliki sifat-sifat karakter yang benar (kebajikan).
Ciri-ciri karakter yang dianggap sebagai kebajikan adalah keberanian, kesederhanaan, keadilan, kebijaksanaan, kemurahan hati, dan temperamen yang baik.
4. Teori Relativisme Etika
Relativisme berasal dari kata Latin relativus yang berarti nisbi atau relatif. Sejalan dengan arti katanya, secara umum relativisme berpendapat bahwa perbedaan manusia, budaya, etika, moral, agama, bukanlah perbedaan dalam hakikat, melainkan perbedaan karena faktor-faktor di luarnya. Sebagai paham dan pandangan etis, relativisme berpendapat bahwa yang baik dan yang jahat, yang benar dan yang salah tergantung pada masing-masing orang dan budaya masyarakatnya.
Menurut relativisme etis, subjektif faktor emosi dan perasaan berperan penting. Karena itu, pengaruh emosi dan perasaan dalam keputusan moral harus diperhitungkan. Ia dapat menetapkan apa yang baik dan yang jahat, apa yang benar dan apa yang salah, menurut pertimbangan dan pemikirannya sendiri berdasarkan data dan fakta yang dimilikinya.
5. Teori Etika Kepedulian (Ethic of Care)
• Etika Kepedulian biasa juga disebut etika perawatan atau ethics of care. Istilah etika kepedulian mengacu pada gagasan tentang sifat moralitas, di mana setiap hubungan kepedulian setidaknya terdiri dari dua orang, yakni "one-caring" dan "cared-for." (Craig P. Dunn dan Brian K. Burton: 2005). Paling sering didefinisikan sebagai praktik atau kebajikan "peduli' dengan memenuhi kebutuhan diri kita sendiri dan kebutuhan orang lain. Ada dua kriteria yang harus dipenuhi agar kewajiban tersebut memiliki kekuatan: (1) hubungan dengan orang lain harus ada (atau berpotensi untuk ada), dan (2) hubungan tersebut harus berpotensi tumbuh menjadi hubungan yang saling peduli.
6. Teori Hak (Right Theory)
• Teori hak ide dasarnya, jika seseorang memiliki hak, maka orang lain memiliki kewajiban yang sesuai untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh hak tersebut. Sebagian besar teoretisi etika memperlakukan hak sebagai sesuatu yang lebih mendasar dan harus diturunkan dari prinsip-prinsip etika, hukum, dan praktik sosial. Karena itu, sejak akhir abad ke-20 (khususnya di Amerika Serikat) hak manusia dianggap sebagai prinsip moral yang fundamental. Artinya hak adalah sesuatu yang pantas dan harus didapatkan oleh seorang individu.
7. Teori Keadilan (Justice Theory)
• Teori keadilan oleh John Rawls dikenal sebagai "Teori Keadilan sebagai Kepastian". Pendekatan Rawls terhadap keadilan adalah kontraktualis, yang berarti bahwa dia mengajukan pandangan bahwa prinsip-prinsip keadilan yang adil dapat dipilih oleh individu dalam suatu situasi khayalan yang disebut "situasi awal" atau "posisi asal".
• Dalam posisi asal ini, individu-individu membuat pilihan prinsip-prinsip keadilan tanpa mengetahui posisi mereka sendiri dalam masyarakat, seperti kekayaan, kecerdasan, atau keberuntungan yang lain.
8. Teori Perintah Ilahi (Devine Command Theory)
• Teori Perintah Ilahi (Devine Command Theory) adalah pandangan etika metafisika yang menyatakan bahwa moralitas bergantung sepenuhnya pada perintah atau kehendak Tuhan. Dalam konteks ini, tindakan yang benar atau salah ditentukan oleh apa yang Tuhan perintahkan atau larang. Teori ini memiliki akar dalam pemikiran filosofis dan teologis.
9. Teori Kontrak Sosial (Social Contract Theory)
• Teori kontrak sosial menegaskan bahwa orang hidup dalam masyarakat karena adanya kesepakatan yang menetapkan aturan moral untuk diikuti oleh siapa saja dalam komunitas tersebut. Beberapa orang percaya bahwa jika kita hidup sesuai dengan kontrak sosial, kita dapat hidup secara moral dengan pilihan kita sendiri. Mereka setuju untuk diatur oleh kewajiban moral dan politik yang digariskan dalam konstitusi sebagai kontrak sosial untuk keharmonisan masyarakat.
10. Teori Etika Feminis (Femenist Ethics)
• Etika feminis merupakan seperangkat perspektif yang muncul atas pandangan bahwa semua teori moral lainnya adalah 'maskulin' yang selalu menampilkan dominasi laki-laki.
• Etika feminis adalah upaya untuk merevisi, merumuskan, atau memikirkan kembali aspek-aspek etika tradisional yang merendahkan atau mendevaluasi pengalaman moral perempuan
• Oleh sebab itu, filsuf feminis mengkritik etika tradisional sebagai fokus utama pada perspektif laki-laki dengan sedikit memperhatikan sudut pandang perempuan.
Komentar
Posting Komentar